Barru, Kota yang Membaca

By : Tim Redaksi Barru.Org

By : Tim Redaksi Barru.Org

Beberapa orang yang membaca judul di atas barangkali akan bertanya-tanya dalam hati, “Kok Membaca? Bukannya Hibrida?”. Jika kamu adalah salah seorang yang menanyakan pertanyaan yang sama, maka kuberitahu, betul kata yang tepat seharusnya adalah “Hibrida”. Lalu kenapa ada kata “Membaca” di sana? Jawabannya adalah sebab saya secara pribadi berharap Barru, kota kecil kelahiran saya ini, bisa menjadi kota yang membaca selain Kota Hibrida, sebuah kata yang sama sekali tidak saya ketahui makna dari metafornya selain pohon kelapa yang badannya gendut serta akronim dari hijau, bersih, asri dan indah.

 

Saya adalah seorang yang mencintai banyak hal termasuk musik, film dan sepak bola. Hal-hal yang tentu juga dicintai oleh banyak orang. Namun tidak seperti banyak orang, ada tiga hal lain yang jika dikombinasikan akan mengalahkan cinta saya pada hal-hal tersebut. Tiga hal itu adalah buku, sofa dan kopi. Bisa dibilang hampir tidak ada satu pun yang lebih saya cintai ketimbang merasai pengalaman berleyeh-leyeh di atas sofa yang empuk, sambil membaca buku-buku yang bergizi seperti Bumi Manusia-nya Pram, atau Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan, atau Supernova-nya Dee, atau Melihat api Bekerja-nya Aan Mansyur, kemudian sesekali menyesap Kopi Toraja atau Kopi Patila di sela-sela halamannya. Sebuah pengalaman yang mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sesungguhnya memang tidak harus selalu mahal dan rumit.

 

Bayangkan, jika seluruh masyarakat, khususnya anak muda, Kota Barru juga mencintai hal yang sama? Mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke Makassar untuk menonton film di bioskop, makan di mall, atau clubbing di hotel yang sudah pasti mahal hanya sekedar untuk mencari hiburan atau melarikan diri dari kepenatan hidup dan pekerjaan. Mereka juga tidak perlu lagi khawatir akan rentan terhadap perilaku-perilaku berisiko seperti mengkonsumsi alkohol dan narkoba, seks bebas, berjudi di pos ronda atau di internet dan lain-lain, sebab bagaimana mungkin mereka sempat berpikir ke arah sana kalau setiap kali ada waktu kosong mereka sedang sibuk terhipnotis oleh bau buku atau imajinasi tak terbatas yang dihasilkan oleh narasi magis dari sebuah buku.

 

Belum lagi, ketika sudah terbiasa menghabiskan waktu dengan membaca –alih-alih menonton televisi-, anak-anak muda Kota Barru akan terbuka wawasannya, akan masuk akal cara berpikirnya, akan santun tutur katanya, akan arif pembawaannya, dan yang paling penting akan tinggi cita-citanya. Sehingga bukan tidak mungkin, dari mereka nantinya akan lahir pemikir-pemikir ulung, pemimpi-pemimpi besar, dan pemimpin-pemimpin hebat. Bayangkan betapa luar biasanya pengaruh yang bisa timbul terhadap masyarakat jika mereka terbiasa membaca?

 

Oleh karena itu, di Hari Ulang Tahun Kabupaten Barru yang ke 56 tahun ini, tak ada yang bisa saya harapkan terwujud pada Kabupaten Barru sebagai tanah kelahiran saya melainka ia menjadi kota yang membaca. Seperti kata ungkapan barat yang mengatakan bahwa “Smart City is a City that Reads (kota cerdas adalah kota yang membaca)”. Saya berharap dan juga meyakini bahwa Kota Barru bisa menjadi kota yang cerdas, yang dari masyarakatnya yang membaca dapat tumbuh kemajuan-kemajuan inovatif, kreatif, dan positif sehingga lambat laun dapat membuat siapa saja yang lahir di Kota Kecil ini, dimanapun kini mereka berada, bisa berkata bahwa saya bangga terlahir di sana.

 

Dirgahayu Barru, Dirgahayu Kota yang (semoga) Membaca.

 

Sumpang Binangae, 18 Februari 2016.

Guest Writer : Anhar Dana Putra

2 Comments

Comments are closed.