Barru Menjadi Kota Budaya, Mengapa Tidak?

Salah satu daerah yang terletak di pesisir barat Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Barru. Daerah ini dikenal dengan mottonya yang khas, yaitu “HIBRIDAH”. “HIBRIDAH” merupakan akronim dari Hijau, Bersih, Asri dan Indah. Mungkin saja motto ini bermaksud menunjukkan bahwa Barru yang hijau karena aneka tumbuhannya yang hidup di atas tanah-tanah yang subur, bersih karena kedisiplinan masyarakatnya menjaga kebersihan (semoga), asri dan indah karena pemandangannya yang memanjakan mata yang memandang. Namun, apakah Barru hanya ingin sampai pada capaian empat hal itu saja?

Merespon pertanyaan tersebut, saya menjawabnya “tidak”. Karena di balik dari empat kata tersebut, Barru sebenarnya memiliki akar kebudayaan menarik untuk dieksplorasi. Tidak menutup kemungkinan keunikan tersebut dapat menjelma menjadi identitas Barru yang saat ini hanya dikenal sebatas “HIBRIDAH” saja. Karena, di daerah ini telah melahirkan sosok perempuan yang merupakan sosok penting dalam peradaban dunia. Ia adalah Retna Kencana Colliq Pujie, seorang penemu aksara “bilang” dan juga sebagai penyalin naskah I Lagaligo.

Melihat fakta sejarah kebudayaan yang terdapat di Barru, maka mengherankan bagi saya jika Barru hanya sekedar Hijau, Bersih, Asri dan Indah saja. Mengapa Barru tidak menjadi satu daerah, misalnya “Berwawasan, Berintelektual, Beradab, dan segala macam lainnya, yang jelas tetap mencerminkan spirit sang Colliq Pujie. Karena, percaya maupun tidak, menjadi “HIBRIDAH” sebenarnya pasti dimiliki oleh setiap daerah. Sehingga kemudian dari hal itulah, “HIBRIDAH” tidak dapat dijadikan sebagai karakter satu daerah.

Mengapa Colliq Pujie tidak dijadikan basis karakter Barru? Padahal, sosok tokoh perempuan ini memiliki beragam dimensi kebudayaan yang patut diteladani. Ia merupakan pejuang, penulis, intelektual, pemimpin, dan tentunya masih banyak hal lainnya yang patut dijadikan inspirasi. Jika Barru meletakkan basis karakternya berdasarkan sosok Colliq Pujie, kita dapat meneropong ke depan, Barru menjadi gudang penulis-penulis handal, intelektual yang berkualitas, pemimin-pemimpin terpercaya yang dibingkai semangat perjuangan. Semua itu adalah unsur-unsur  kebudayaan yang dapat memperkuat peradaban.

Saat ini, Colliq Pujie hanya sekedar diabadikan menjadi nama sebuah taman kota saja. Dan, di dalam taman kota itu pula terdapat bangunan patung beserta relief tentangnya. Bahkan, konon biaya pembangunan patung tersebut menghabiskan anggaran daerah sebesar 3 milyar. Tidak dibayangkan jika dana sebesar itu digunakan untuk membiayai komunitas-komunitas kebudayaan yang ada di Barru, seperti halnya pengadaan buku, alat-alat kesenian, pelatihan dan segala macam. Tentunya spirit Colliq Pujie sebagai salah satu pewaris budaya dunia akan tampak di daerah Barru.

Baiknya, Barru ke depan memperhatikan pembangunan kebudayaannya. Pembangunan kebudayaan yang dimaksud bukanlah sekedar memelihara benda-benda pusaka peninggalan kerajaan dan segala macam lainnya. Tetapi, yang dimaksud adalah pembangunan kulaitas SDM (sumber daya manusia) yang patut diperhatikan. Semua itu bisa terjadi jika Barru memperhatikan ruang-ruang produksi kebudayaan dan memperkuatnya dengan kesadaran sejarah kebudayaan yang dimiliki.

Salam Budaya .

By : Arhamuddin Ali
arhamuddinali@gmail.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *