EduTrip Blogger dan Fotografer di Hutan Mangrove Pannikiang Barru

Sejumlah 70-an fotografer, blogger dan beberapa pihak mengunjungi Pulau Panikiang, Barru dalam kegiatan EduTrip 2016 untuk peringatan hari Mangrove se-dunia 2016. Mereka berdiskusi tentang perubahan iklim, mendokumentasikan kondisi hutan mangrove, potensi wisata dan penghidupan masyarakat di Pulau Panikiang, Barru. Selanjutnya mereka diharapkan menginspirasi banyak orang untuk melakukan aksi nyata pelestarian mangrove melalui foto dan tulisan di blog yang menggugah. Edu-Trip atau Education Trip mengajak komunitas fotografer, blogger dan masyarakat menikmati perjalanan ke Pulau Panikiang sambil belajar mangrove dan penghidupan masyarakat.  Pada puncak peringatan tanggal 26 Juli 2016 akan diumumkan pemenang lomba foto dan blog yang berhak mendapatkan sejumlah hadiah.  Kegiatan ini difasilitasi oleh Blue Forests bekerjasama dengan BPBD Barru, BLHD Barru, PLTU Barru, Ratu Kamera, Rakyat Sulsel.com, Barru.org, Tribun Timur, Revius, Makassar Terkini dan VE Channel.

 

Pulau Panikiang kaya akan sumberdaya mangrove dan biota. Pesisir daratan pulau dihuni oleh vegetasi mangrove yang rimbun.  Kita bisa menjumpai 30 jenis mangrove di Panikiang, 17 jenis mangrove sejati dan 13 jenis mangrove asosiasi. Mangrove Panikiang utamanya disusun oleh jenis Sonneratia alba, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia marina, Ceriops decandra, Ceriops tagal, dan Lumnitzera racemosa. Dilengkapi dengan jenis Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis dan jenis mangrove asosiasi. Lebih dari setengah jenis mangrove sejati di Sulawesi yang berjumlah 32 jenis dapat ditemukan di Panikiang.  Seluruh Indonesia tercatat terdapat 43 jenis mangrove sejati. Tidak perlu jauh-jauh menjelajahi Sulawesi jika ingin melihat vegetasi mangrove. Panikiang menyediakannya untuk dinikmati dan dipelajari.

 

Beragam fauna juga berdiam di Panikiang. Kalong dan burung contohnya. Banyaknya kelelawar pemakan buah yang tinggal di Panikiang menjadi musabab masyarakat menyebutnya sebagai Pulau Panikiang. Ada setidaknya 20 spesies burung dari 16 familia di Panikiang. Satu jenis burung endemik Sulawesi seperti Pelatuk Sulawesi (Mulleripicus fulvus) dan beberapa jenis burung yang merupakan burung dilindungi seperti yaitu cekakak suci (Todirampus sancta), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), burung madu sepah raja (Aetophyga siparaja), burung kacamata (Zopterops sp), dan burung madu bakau (Nectarinia calcostetha) menjadikan Panikiang sebagai rumahnya. Jika ingin terus menikmati keragaman mangrove dan fauna di Panikiang, tentu perlu dijaga dan dilindungi. Masyarakat juga akan mendapat manfaat ekonomi dengan beragamnya biota ekonomis penting seperti ikan dan kepiting. Panikiang menjadi potret sumbangsih mangrove terhadap kehidupan. Dia bisa menjadi hutan referensi dan hutan pendidikan tentang beragamnya mangrove dengan zonasinya serta fauna-fauna endemik.

 

EduTrip ini adalah rangkaian peringatan International Mangrove Day yang jatuh pada tanggal 26 Juli setiap tahunnya. Tema yang diangkat untuk perayaan tahun ini adalah Future MangroveFrom Grey to Green. Puncak peringatan akan diisi dengan serangkaian kegiatan antara lain Mangrove Biodiversity Revive berupa pengkayaan keanekaragaman jenis mangrove di Kepulauan Tanakeke. Masyarakat Tanakeke termasuk pelajar SD dan SMP akan menebar 8 spesies mangrove di kawasan rehabilitasi. Sebelumnya telah dilakukan pembenahan hidrologi normal di tambak-tambak terlantar ini untuk memudahkan mangrove tumbuh secara alami. Total 532 ha tambak terlantar telah direhabilitasi masyarakat Tanakeke bersama beberapa pihak untuk mengembalikan ekosistem mangrove mereka yang hilang – Future Mangrove: From Grey to Green. Selain itu akan dilaksanakan pula Nonton Bareng Film Tentang Kita yang mengajak masyarakat terutama kalangan muda untuk menonton film bertema lingkungan. Video ini adalah buah karya pelajar SD dan SMP di Tanakeke yang mengangkat isu lingkungan di sekitarnya.

 

International Mangrove Day dijadikan momentum bagi banyak pihak dalam satu dekade terakhir untuk melakukan aksi dan menyuarakan kampanye terkait pentingnya pelestarian dan perbaikan pengelolaan ekosistem mangrove di dunia. Hingga akhirnya UNESCO secara resmi menetapkan tanggal 26 Juli 2016 sebagai International Mangrove Day dalam sebuah dokumen “Proclamation of the International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem” pada November tahun 2015.

 

Pesan yang akan disuarakan pada pelaksanaan peringatan hari mangrove sedunia tahun ini antara lain:

  1. Moratorium konversi Mangrove menjadi peruntukan lain.
  2. Perbaikan tata kelola kawasan konservasi Mangrove secara berkelanjutan seperti Taman Nasional, Cagar Alam, maupun Suaka Margasatwa untuk fungsi pelestarian kawasan tetap berjalan.
  3. Program konservasi rehabilitasi dan pengelolaan Mangrove harus berbasis masyarakat.
  4. Rehabilitasi kembali lahan tambak yang terlantar dan tidak produktif menjadi hutan mangrove mengingat kehilangan mangrove di Indonesia sebagian besar disebabkan konversi menjadi tambak.
  5. Perbaikan perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Indonesia untuk menunjang keberhasilan rehabilitasi. Banyak niat baik dan aksi rehabilitasi dilakukan sia-sia karena dilakukan dilahn yang tidak sesuai serta tidak didukung oleh pengetahuan dan teknis rehabilitasi yang tepat.
  6. Penguatan dan pemberdayaan pembudidaya tambak menuju tata kelola budidaya berkelanjutan.

 

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Akhzan Nur Iman : 0853 9540 4862; akhzan@blue-forests.org

Laila Adila : 0822 9261 2000; 0878 8088 2057; laila.adila03@gmail.com

Rieski Kurniasari : 0852 4244 7870; rieski@blue-forests.org

 

Media Sosial:

Facebook            : https://www.facebook.com/blueforestsorg/

Twitter                 : https://twitter.com/blue_forests

Instagram            : https://www.instagram.com/blueforests/

E-mail                    : info@blue-forests.org / blueforests.social@gmail.com

Website               : www.blue-forests.org