Itangan dari Lampoko, Perempuan Pelestari Sureq I La Galigo

Sejarah akan selalu dikenang oleh semua orang. Kita pun diwariskan sebagai penerus & penjaga sejarah tersebut. Menjaga dan tetap melestarikan setiap peristiwa orang-orang terdahulu yang sampai saat ini terus dituliskan agar kelak masih dibaca oleh penerus selanjutnya agar tidak punah.

Besar perjuangan orang terdahulu mempertahankan warisan budayanya hingga butuh puluhan tahun untuk menuliskan hal tersebut. Siapa yang tidak mengenal cerita La Galigo, jejak sejarah terpanjang di dunia. Ada banyak hal di dalam jejak sejarah tersebut yang mewariskan kultur budayanya hingga saat ini. Seperti halnya “Pabbaca Sureq” merupakan orang yang masih mampu membacakan tulisan-tulisan Aksara Lontara dalam salinan penggalan cerita La Galigo ini.

Sureq Galigo atau Galigo atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Selain menceritakan kisah asal-usul manusia juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-sehari. Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada acara – acara penting tradisional Bugis. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, dimana versi-versi sebelumnya telah hilang. Namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terpanjang.

Hal demikianlah yang bisa kita saksikan di rangkaian acara sakral “Mappadendang” di Lampoko, Kecamatan Balusu. Prosesi ritual dimulai dengan acara “Mappangolo” lalu selanjutnya pembacaan Sureq atau biasa dikenal dengan istilah “Massureq” yaitu dibacakannya salinan naskah tentang “Meong Palo Karellae” dalam episode La Galigo.

Pembacaan Sureq pada acara “Mappadendang” di Lampoko, yang membacakan Sureq tersebut adalah Itangan. Menurut masyarakat di Lampoko, beliau merupakan satu-satunya yang bisa membacakan isi dalam teks Sureq La Galigo. Pada acara “Mappadendang” ini, Itangan menceritakan tentang asal muasal Meong Palo Karellae di tanah Berru. Menurut cerita pada isi salinan teks lontara tersebut, tanah Berru merupakan persinggahan dimana masyarakatnya mempunyai kebudayaan dan kultur yang sangat ramah. Karena ketika kita bertamu di tanah Berru, masyarakat menyambutnya dengan makanan khas olahan padi.

Sesuai sumber tulisan yang Barru.Org dapatkan, versi bahasa bugis asli La Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan di Eropa terutama di perpustakaan Koninklijk Instituut Voor Taal, Land En- Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara. Bahkan hal tersebut belum termasuk yang disimpan secara pribadi seperti halnya pada seorang Itangan di Dusun Lampoko Kec. Balusu, Kabupaten Barru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *