Jamil Hasanuddin, Pelestari & Pembuat Kecapi dari Barru

Di Kabupaten Barru ternyata ada sosok yang kami bisa anggap sebagai budayawan, karena ketekunannya melestarikan budaya khususnya budaya kearifan lokal. Bapak Jamil Hasanuddin, sesuai umur beliau yang sudah 40an tahun tapi tetap semangat menjaga dan melestarikan alat musik tradisional sulawesi selatan yaitu kecapi dan suling. Lebih istimewanya beliau sangat mahir dalam pembuatan kecapi dan juga suling. Apalagi kalau hanya memainkan alat musik tradisional tersebut. Bahkan beliau masih terlibat dalam acara adat “mappadendang” salah satu Kegiatan masyarakat tersebut merupakan acara menyambut musim panen padi.

20160819_095050

Beliau sudah 10 tahun lebih memproduksi kecapi, tapi itu hanya dilakukan jika ada yang ingin memesan hasil buatannya. Kemahirannya ini didapatkan dari cerita beliau ketika tetangga rumah memberinya kecapi lalu dia belajar membuat secara otodidak. Akan tetapi sudah sejak lama beliau tahu memainkan kecapi tersebut sehingga ada pesan orang tua dahulu jika bentuk khas kecapi harus tetap dipertahankan. Hal itulah sampai sekarang bentuk kecapi sama dari bentuk dahulu sampai sekarang.

Menurut cerita sejarah bentuk kecapi ini seperti perahu yang dimana memang alat musik tradisional ini dulunya merupakan kebiasaan para nelayan tempo dulu yang harus menempuh berhari-hari mencari ikan dilaut. Sehingga kecapi inilah sebagai alat musik mereka untuk menghibur dirinya sendiri. Hal inilah kecapi itu terlihat bentuknya seperti perahu.

Kebiasaan petani dulu, mereka mempergunakan kecapi juga sebagai alat hiburan pada saat mereka ketika Maddoja Bine ( kegiatan tersebut merupakan pembenihan padi sampai petani begadang sehari semalam untuk menunggu padi ).

20160819_095122

Dalam pembuatan kecapi itu sendiri ada banyak hal yang harus diperhatikan, tidak sekadar dibuat begitu saja. Prosesnya bisa sampai 3 hari lamanya. Paling penting pada proses pembuatan kecapi itu adalah part kecapi harus sama karena hal ini yang menentukan bunyi dari kecapin tersebut. Setiap sisi badan kecapi juga harus sama. Ketika hal ini tidak sesuai maka itu tidak akan sesuai dengan bunyi aslinya. Kayu Nangka merupakan jenis kayu terbaik dalam pembuatan kecapi karena kayu nangka memiliki karakteristik tidak keras sehingga bunyi yang dihasilkan akan baik.

Selama ini dia tidak pernah mematok harga untuk pembuatan kecapinya. Biasanya orang menghargai karyanya dari 300-400 ribu. Dalam era sekarang beliau sangat berharap bagi generasi yang ingin belajar tentang pembuatan kecapi beliau sangat terbuka diri akan hal itu, karena harapan beliau selama ini selalu ada yang bisa ikut melestarikan alat kesenian tersebut. Karena baginya kebudayaan harus selalu hadir dalam setiap zaman. Karena kearifan lokal merupakan jati diri manusia itu sendiri.

Penulis : Asriadi Rijal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *