Kami Tak Pernah Menyesal Lahir Sebagai Orang Barru Meskipun Tanah Tetangga Memberi Kami Kehidupan

Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya kabupaten Barru, sebuah kisah memilukan datang dari desa Salo Bompong Sidrap yang menceritakan kehidupan warga keturunan Barru di perantauan. Menurut kisah, Mak Gatta saat itu masih berusia 25 tahun ketika membuat keputusan berani merantau ke bumi Sidenreng Rappang (Sidrap), sebuah kabupaten yang ia sendiri pun belum tahu seperti apa keadaannya. Ketika itu ia mendengar bahwa di Sidrap sedang melakukan pembangunan, makanya saat itu ia berpikir pasti disana banyak yang bisa ia kerjakan, kata Mak Gatta yang sekarang sudah berusia 64 tahun, saat ditemui Barru.Org di kediamannya.

 

Mak Gatta lahir di desa Galung Kabupaten Barru pada tahun1952, ia memulai sebuah petualangan baru bersama tiga orang kawannya yakni Suhadae (alm), i hawa, dan Sellenie (alm). Mereka sama-sama merantau dengan satu tujuan, mengubah nasib agar lebih baik meskipun harus menempuh jarak ratusan kilometer.

 

Pada tahun 1973, dengan modal nekad dan mengantongi uang secukupnya. Mereka pun berangkat ke Sidrap menggunakan transportasi umum yang ada pada saat itu di Barru. Mak Gatta menceritakan awal petualangannya telah menempuh perjalanan 87 Km dengan rute Barru-Pare-Sidenreng dan kendaraan yang ditumpanginya pun berhenti di kota Pangkajene.

 

12790046_1191887197495861_1176749161_o

Sosok Mak Gatta warga keturunan Barru merupakan salah satu pelopor migrasi ke desa Salo Bompong

Tujuannya kali ini ternyata jauh dari harapannya, ternyata disana belum ada apa-apa dan tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya, hanya hutan belantara yang tak jelas rimbanya yang mereka temui. Meskipun dengan perasaan kecewa dan tak ingin pulang sebelum mereka sukses akhirnya Mak Gatta dan kawan-kawan memutuskan untuk menetap dan memulai hidup baru di Desa Salo Bompong. Desa tersebut berada di pedalaman Kabupaten Sidrap, berjarak 3 Km dari bendoro dan 10 Km dari kota Pangkajene.

“Waktu itu kami berencana membuka lahan baru karena sepertinya tempat ini lebih cocok untuk bertani saja”, kata Mak Gatta.

 

Singkat cerita, setelah bertahan selama sekitar 3 tahun, Mak Gatta beserta kawan-kawan telah merubah wajah desa Salo Bompong menjadi lahan bercocok tanam. Desa yang dulunya hanya sebuah hutan, namun di tangan Mak Gatta dan kawan-kawan kini beralih fungsi menjadi petaka sawah. Setelah kesuksesannya itu, mulailah ia berkabar ke kampung halaman. Beberapa sanak saudara mereka ajak untuk tinggal di desa tersebut. Setahun kemudian Mak Gatta menikah dengan Muh. Arif yang kini menjadi imam mesjid di desa Salo Bompong. Mak Gatta tak banyak membahas seperti apa kisah percintaannya dulu, ia hanya berkata bahwa suaminya juga warga keturunan Barru. Sampai saat ini hanya Mak Gatta dan i Hawa yang masih menjadi saksi hidup petualangannya, sementara kedua kawannya lebih dulu berpulang ke Rahmatullah.

 

Selama 40 tahun lebih tinggal di desa tersebut, Mak Gatta telah memiliki satu orang anak yang telah menikah bernama Martina dan memiliki dua orang cucu. Keluarga kecil Mak Gatta selama ini tinggal di atas tanah yang notabene milik pemerintah Sidrap. Meskipun begitu, ia mengungkapkan bahwa ia selalu rindu dengan kampung halamannya di Barru. Ia tak pernah menyesal lahir di Barru meskipun kini tanah tetangga telah memberinya kehidupan.

 

12772963_1192232114128036_1247771305_o

Rumah Kediaman Mak Gatta di desa Salo Bompong

Ironisnya, kini tercatat ada sekitar 30 kepala keluarga yang mendiami Desa Salobompong, dan semuanya juga merupakan warga keturunan Barru, merekapun membentuk kerukunan tetangga yang di ketuai oleh seorang kepala desa. Di sela-sela wawancara kami, Mak Gatta sangat mengeluhkan minimnya infrastrukur yang ada di tempat tinggalnya. Seperti akses jalan masih tanah berbatu, belum lagi masjid sementara dalam pembangunan, sarana sekolah bagi anak-anak desa Salo Bompong yang belum memadai. Memang nampak jelas kehidupan mereka sangat jauh dari kesejahteraan.

 

12788817_1191887174162530_1734190564_o

Infrastruktur minim menjadi salah satu keluhan warga desa.

Barru.Org sendiri sangat prihatin terlebih kepada kondisi pendidikan anak-anak mereka. Tentu saja gizi pendidikan yang mereka terima tidak sebanding dengan porsi anak perkotaan pada umumnya. Apalagi menurut Mak Gatta letak sekolah yang jauh dari desa, tentu akan mempengaruhi minat belajar anak-anak. Sehingga bukan hal mustahil jika nantinya ada yang terpaksa putus sekolah dan mengikuti jejak orang tuanya. Jika hal demikian terjadi sungguh sangat disayangkan.

 

12776709_1191887227495858_1626004177_o

Potret wajah anak-anak Salo Bompong keturunan Barru

Saat di tanyai apakah Mak Gatta ingin pulang dan menetap di kampung halamannya kembali, ia hanya menjawab “Saya tak pernah berfikir lagi untuk pindah sejak berada di tempat ini”. Namun baginya kini, ia hanya ingin membesarkan anak cucunya sembari menceritakan asal usulnya dulu sebagai “wija to Berru”.

 

Di akhir wawancara kami, Mak Gatta sempat menguraikan harapannya kepada kota Barru, selain berharap agar pemerintah mau memberikan bantuan padanya, ia juga tak lupa memberikan ucapan selamat untuk dirgahayu kota Barru ke 56, ia ingin pembangunan di tanah kelahirannya harus terus berkembang sehingga tidak ada lagi warga keturunan yang pergi merantau keluar daerah untuk mencari lapangan kerja seperti dirinya.

Salam dari kami kerukunan keluarga daerah Barru desa Salo Bompong !.

 

Penulis : Achmad Afandy

received_10205457710753354