Karellae, Maskot Resmi Kejurda Futsal Piala Gubernur Sulsel 2019 Yang Akan Berlangsung di Barru

Namanya KARELLAE terinspirasi dari Cerita Meong Palo Karellae merupakan salah satu episode dari epos I La Galigo, suatu karya sastra yang bersifat mitologis, tetapi pada hakekatnya mengandung nilai-nilai positif. Di masa dahulu kisah ini akan dibacakan pada setiap upacara-upacara adat masyarakar Bugis, terutama upacara yang berkaitan dengan pertanian. Sementara itu, tradisi membaca naskah ini biasanya disebut “Massureq.”

Meskipun cerita Meong Palo Karellae di berbagai daerah sedikit berbeda, tapi yang pasti alur ceritanya sama, yaitu kisah seekor kucing belang loreng merah yang dijuluki Meong Palo Karellae setia menemani Sangiangseri (Sang Hyang Seri atau dewi padi yang menjelma sebagai tanaman padi). Berikut ini kisah Meong Palo Karellae

Ada suatu masa di mana Sangiangseri (dewi padi) tidak lagi dihormati oleh masyarakat di tanah Luwu. Tidak lagi didudukkan di tempat yang agung, tidak ada lagi masyarakat yang menuruti pemali atau petuah orang terdahulu, padi dibiarkan dimakan oleh tikus di malam hari, dan dipatuk ayam di siang harinya.

Hanya Meong Palo Karellae yang menghormati Sangiangseri, namun justru ia sering disiksa oleh para penduduk. Sangiangseri seri kemudian merasa kasihan melihatnya sehingga ia mengajak Meong Palo Karellae pergi meninggalkan tempat itu

Dalam pengembaraannya yg sangat jauh Meong Palo selalu disiksa oleh orang yang tidak menginginkan keberadaannya, sementara Sangiangseri tidak lagi disimpan di atas lumbung. Mereka juga terus dilanda rasa lapar dan haus. Ketika siang mereka merasakan panas terik matahari, ketika malam mereka merasakan dingin yang menusuk. Itulah yang menyebabkan mereka selalu meninggalkan setiap tempat yang mereka datangi.

Ketika memasuki daerah Barru, mereka menemukan hal yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Sangiangseri dan Meong Palo Karellae disambut dengan baik, diagungkan dan ditempatkan baik-baik di atas loteng. Semua masyarakatnya ramah, jujur dan berlaku adil, sehingga Sangiangseri dan Meong Palo Karellae merasa nyaman tinggal di tempat itu.

Pada waktu itu, Sangiangseri merasa sedih dan merasa lega ketika ia mengingat kembali kisah perjalanannya yang penuh penderitaan sekaligus berbagai macam perlakuan orang terhadap dirinya. Ia pun berpikir untuk meninggalkan dunia dan kembali ke langit untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di Boting Langi (sebutan untuk tempat tinggalnya dewa-dewa di atas langit menurut kepercayaan Bugis).

Sangiangseri dan Meong Palo Karellae kemudian meninggalkan dunia dan naik ke atas langit. Namun ketika mereka sampai di Boting Langi, mereka ternyata tidak diizinkan untuk tinggal di sana karena mereka telah ditakdirkan untuk memberi kehidupan di dunia.

Sangiangseri dan Meong Palo Karellae kemudian kembali ke dunia. Tidak terasa sudah tujuh hari tujuh malam Sangiangseri berada di Barru, mulailah ia memberi pesan-pesan, nasihat, dan pemali, terutama yang berkaitan dengan tata cara menanam padi, serta adat dalam memperlakukan tanaman padi sehingga masyarakat hidup dalam kebaikan.

Masyarakat kemudian percaya bahwa ketika mereka melaksanakan pesan dari Sangiangseri, maka kehidupan mereka di dunia akan mendatangkan kebaikan, juga Sangiangseri tidak akan meninggalkan mereka. Itulah alasan kami memilih sosok KARELLAE untuk menjadi maskot remi pada KUJAARAAN DAERAH FUTSAL PIALA GUBERNUR 2019 yang akan d laksanakan Di kabupaten Barru.

Maskot ini nantinya akan memberi spirit dan semangat kepada para tim yg akan bertanding terkhusus tim tuan rumah Kabupaten barru. Kami juga akan berusaha mendaji tuan rumah yg ramah dan baik untuk semua kabupaten yg akan ikut berlaga pada kompetisi tertinggi d sulsel ini.

Sumber artikel Kisah Meong Palo Karellae di Barru | Attoriolong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *