ban

Seakan tak ada habisnya, tangan – tangan kreatif bermunculan di Barru.  Seperti yang terbaru adalah kerajinan tangan yang memanfaatkan ban bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual tinggi. Ide ini patut diacungi jempol.

Sebut saja bapak Nursalim. Beliau bertempat tinggal di depan SPBU Kajuara Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru. Sejak mendirikan usaha “Kursi Ban Mulia” beliau memutuskan untuk berhenti bekerja dari salah satu perusahaan Swasta di Makassar. Bapak yang akrab dengan sapaan pak Salim ini menceritakan kepada Barru.org awal pengenalannya dengan usaha ini. Mulanya waktu Ia masih bekerja di perusahaan swasta dia tinggal di salah satu Mess perusahaan. Pas depan mess tersebut ada penjual kursi ban bekas ini. Karena penasaran beliau mengamati saja. Lama kelamaan karena menurutnya sudah paham teknik pembuatannya. Beliau pun kembali ke kampung halamannya untuk mencoba sampai menemukan sendiri ciri khas dari kursi ban bekas tersebut.

Sejak saat itu beliau memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan swasta dan fokus di usaha yang sekarang sudah digulutinya setahun lebih semenjak tahun 2016 lalu. Bahkan sudah ada 70 lebih set kursi yang telah dibuatnya dan diperjualbelikan. Pembelipun sudah sampai dilintas kabupaten seperti Kabupaten Enrekang, Soppeng, Makassar bahkan yang terbaru dikirim ke lintas provinsi yakni ke Kalimantan.

Kelebihan kursi ini selain bahan dasar menggunakan ban bekas juga punya daya tarik dan keunikan tersendiri. Jika dilihat dari penambahan spon kursi dan pelapis kain anti air yang menambah kwalitas bahkan daya jual yang tinggi sehingga pembeli tidak perlu lagi ragu akan kwalitas dari kursi tersebut jika dibandingkan dengan kursi yang ada di pulau jawa bahkan cara perawatan yang juga mudah dan awet.

“Intinya dek, kerajianan kami ini satu-satunya di Barru jadi patutki banggakan hasil produksi dari kampung ta sendiri. Apalagi Harga yang kami tawarkan sesuai dengan kwalitas yang kami jual senilai harga Rp 1.100.000.” Papar pak salim. Beliau juga berharap produk ini bisa mengangkat kreatifitas para pengrajian kursi untuk selalu berenovasi dengan tetap mempertahankan nilai karya dan perhatian pemerintah untuk bisa menjadikan kami selaku pengusaha kecil ini juga bisa berkiprah sampai di skala nasional. Karena pengrajin seperti mereka hanya bisa berkarya lalu menjadi nilai jual.

Proses pembuatan satu set kursi ini juga hanya membutuhkan 2 hari saja. Karena makin hari makin dilirik oleh pasar bapak Salim mempekerjakan juga karyawan untuk membantunya. Jadi selain kursi ini, beliau juga memproduksi Pot Bunga dan tempat sampah. Sesuatu hal yang benar-benar berguna hanya dengan bahan bekas bisa memproduksi hasil karya yang luar biasa.

Pengrajin seperti mereka hanya bisa berkarya dan berfikir bagaimana menghasilkan nilai jual. Padahal jika ini dikembangkan maka produk lokal kita jauh lebih bisa bersaing dengan yang ada diluar sana seperti jawa, Bali, Sumatera dan tentunya bisa menjadi produksi terbesar di Indonesia Timur. Bahkan bisa membuka lapangan kerja yang luas dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Maju terus Produk lokal kita dan tetap bangga akan karya yang dihasilkan.

Laporan : Asriadi Rijal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>