Pulau Pannikiang, Tuan Rumah Internasional Mangrove Day

International Mangrove Day merupakan momentum bagi banyak pihak dalam satu tahun terakhir dalam melakukan aksi dan menyuarakan kampanye terkait pentingnya pelestarian dan perbaikan pengelolaan mangrove sedunia. 

Hingga akhirnya UNESCO secara resmi menetapkan tanggal 26 Juli 2016 sebagai International Mangrove day dalam dokumen “Proclamation of the international day for the Conservation of the mangrove ecosystem” pada november tahun 2015.

Dalam upaya ini BlueForests melaksanakan sejumlah kegiatan dengan tema”Future mangrove : From Grey to Green”. Yang dilaksanakan di pulau pannikiang, Barru dan Mangrove Blodiversity Revive “Pengkayaan keanekaragaman jenis mangrove di kepulauan Tanakeke, Takalar.

_MG_3659

Ketua Panitia Saat Memberikan Sambutan di Bola Soba’e

Dalam pelaksanaannya kabupaten Barru sendiri diadakan Education Trip bersama para Blogger dan Fotografer di pulau Pannikiang yang terlaksana pada tanggal 23 juli 2016 kemarin. Acara dimulai di Gedung Bola Soba’e yang dibuka langsung oleh kepala BPBD Ir.H.Abd.Kadir,MP Kabupaten Barru dan memberikan pemaparan tentang kajian mitigasi bencana alam laut dan prakiraan iklim laut. Beliau berharap kegiatan ini bisa terlaksana setiap saat agar dapat memberikan pemahaman terkhusus tentang Mangrove itu sendiri.

_MG_3676

Peserta Antusias Mengikuti Pre Test Sebelum Kegiatan di Mulai

Terdapat 40 peserta ikut dalam kegiatan ini. Dari event yang sangat luar biasa ini, kita belajar dan banyak mengenal tentang mangrove terutama di Pulau Pannikiang dan Area penanaman di Bawasaloe kecamatan Balusu. Ternyata Mangrove punya banyak jenis, menurut informasi yang kami dapatkan ada 43 jenis mangrove dan 17 diantaranya ada di Pulau pannikiang. Kita Orang Barru patut bangga dan wajib untuk selalu tahu tentang mangrove itu sendiri karena disekitar kita, dipulau Pannikiang terdapat banyak kekayaan mangrove yang tidak semua daerah maupun negara memilikinya. Butuh 10 kali lipat hutan didarat untuk menyamai kekuatan Mangrove di Pulau pannikiang untuk menghirup zat karbon.

_MG_3757

Peserta Kegiatan Tiba di Pulau Pannikiang, Barru

Salah satu peran penting terhadap perkembangan hutan mangrove di pulau pannikiang adalah adanya perhatian khusus dari masyarakat lokal setempat. Seperti halnya bapak dusun pannikiang yang sudah 3 turunan merawat mangrove itu sendiri. Masih teringat dibenak beliau bagaimana mereka menanam sampai mangrove itu bisa dilihat bahkan dirasakan manfaatnya seperti sekarang ini.

Yayasan Hutan Biru ( blueforests ) yang berdiri tahun 2000 di Indonesia itu awalnya sebagai yayasan Akar Rumput Laut, kemudian menjadi Mangrove Action Project Indonesia dan resmi menjadi Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) pada tahun 2013. Salah satu anggota Blueforests yang kami temui yakni Ratnawaty Fadillah memaparkan “Mangrove dapat tumbuh dilokasi yang keadaannya lautnya pasang surut jika pasang akan terendam dan jika surut akan kering berkisar perbandingan 30:70 %. Pertumbuhan mangrove berbeda pada wilayah yang pasokan air tawarnya baik itu berkisar 1 tahun sedangkan pada wilayah kepulauan butuh waktu sampai 3 tahun akan terlihat.

_MG_3827

Peserta Mendengarkan Materi dari Perwakilan Blueforest di Jalur Tracking Mangrove

Kelebihan pohon mangrove pada pohon induk akarnya terbagi dalam dua bentuk yaitu akar yang terlihat seperti pulpen muncul kepermukaan sehingga bisa menjadi penahan ombak jika tumbuh besar, sedangkan akar yang terlihat mencakar itu berfungsi sebagai nafas karena mangrove hidup pada wilayah yang ekstrim.

Di Indonesia pada umumnya, dalam rehabilitasi  mangrove masih dilakukan secara penanaman. Padahal ada waktu dimana penanaman harus dilakukan yakni ketika kondisi-kondisi disekitar pesisiran tidak terdapat induk mangrove yang menghasilkan bibit sehingga keadaan seperti ini baik untuk dilakukan intervensi penanaman. Karena secara alami mangrove menghasilkan bibit dari buah yang jatuh dan tumbuh sendiri.

_MG_3894

Sesi Photo Kelompok Peserta Internasional Mangrove Day

Kami juga menemui salah satu pencinta mangrove yaitu Zoe, mahasiswi dari Florida University, dia sengaja datang di Indonesia untuk mengunjungi langsung pulau Pannikiang dan mengikuti kegiatan ini karena menurutnya di negaranya hanya terdapat 3 jenis mangrove dan Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove paling indah di dunia salah satu diantaranya pulau pannikiang yang masih sangat alami.

DSCN7944

photo bersama tim redaksi bersama Zoe dan perwakilan blueforests

Tujuan terselenggaranya kegiatan ini diantaranya Moratorium Konversi Mangrove menjadi peruntukan lain, perbaikan tata kelola kawasan konservasi Mangrove, program konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan mangrove harus berbasis masyarakat, Rehabilitasi kembali lahan tambak yang terlantar dan tidak produktif menjadi hutan mangrove, perbaikan perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Indonesia untuk menunjang keberhasilan rehabilitasi, dan penguatan dan pemberdayaan pembudidaya tambak menuju tata kelola budidaya berkelanjutan. Penulis : Asriadi Rijal Fotographer : Zulham Irfandy