RUMAH TUA PENINGGALAN BELANDA DI SUMPANG BINANGAE

Bagi sebagian masyarakat Sumpang Binangae kecamatan Barru, cerita mengenai rumah tua peninggalan belanda bukan sesuatu yang populer, awal mula mereka hanya menganggap  kehadiran rumah tersebut adalah sebuah bukti sejarah kalau penjajah Belanda pernah menetap di rana Sumpang Binangae. Namun setelah para antek-antek Belanda pergi meninggalkan tempat itu, cerita rumah tua itupun berkembang menjadi sebuah cerita misteri

Sekilas rumah tersebut tidak begitu terlihat oleh setiap warga yang melintasi di jalan Lakalolong, lantaran tempatnya yang berada di atas di bukit dan tertutupi oleh banyak pepohonan besar yang tak terawat. Hanya terlihat atap rumah yang tergolong unik berbentuk limas yang memanjang ke atas.

Jika menengok kedalam rumah, kondisinya tidak jauh beda dengan kondisi di luar pekarangan, sungguh tak terawat. Rumah tersebut memiliki luas kurang lebih sekitar 700 meter persegi tiap ruangan dikelilingi sampah-sampah kayu yang berserakan, serta tekstur dindingnya sudah mulai keropos, belum lagi atapnya yang bocor, pengap, dan gelap.

Pernah satu waktu saya menyisir ke rumah itu, ketika saya sudah berada di depan pintu dan hendak melangkah kedalam tiba-tiba saya melihat sebuah patung gajah putih yang bentuknya aneh kemudian di letakkan di salah satu sudut ruangan. Karena takut sayapun tidak meneruskan langkah lebih jauh. Sekembalinya dari sana saya bercerita kepada teman tentang apa yang sudah saya lihat di dalam rumah itu, Sungguh angker rumah itu.
Menurut sejarah, rumah tua tersebut hingga kini pun masih simpang siur. Dari cerita yang beredar di masyarakat bahwa dulunya rumah itu di jadikan sebagai kantor oleh orang-orang Belanda ketika menduduki wilayah Sumpang Binangae, jadi segala aktivitas para antek-antek Belanda kala itu berpusat dirumah tua ini. Namun semenjak Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya, para antek-antek Belanda tersebut di usir pulang ke negaranya. Nah kini rumah itu kosong tak berpenghuni sehingga terkesan angker.

Konon menurut warga yang bermukim di jalan Lakalolong setelah rumah itu kosong, kejadian-kejadian janggal mulai terasa pada hari-hari berikutnya.

Pada malam hari warga sering mencium aroma menyengat seperti bau mayat yang di biarkan membusuk berhari-hari.

Ada juga yang pernah mendengar seperti suara-suara lantang ketikan mesin ketik, kemudian suara- suara gemuruh orang lalu lalang, sampai suara tangisan pekik yang bikin bulu kuduk merinding. Parahnya lagi, jika melintas di depan rumah itu perasaan tiba-tiba berubah aneh seperti ada sesosok bayangan yang mengawasi dari balik jendela.

Kini diketahui bahwa ada sesosok perempuan setinggi 2 meter berpakaian putih, wajahnya tertutupi oleh rambut panjang yang terurai sampai ke tanah, dialah arwah penunggu rumah tua Belanda.

Beredar kabar  bahwa dulunya para penjajah Belanda terkenal dengan asikapnya yang kejam, ratusan laki-laki di tembak mati di lapangan Sumpang binangae, dan beberapa dari istri mereka di jadikan  budak di kantor belanda tersebut.

Sehingga warga sekitar berkesimpulan bahwa hantu perempuan itu adalah salah satu  budak perempuan yang mati bunuh diri di tempat itu

Sejak saat itulah masyarakat sekitar tidak ada yang berani mendekati area rumah, mereka hanya membiarkan rumah tua itu lapuk di makan oleh nrayap,.

Sampai saat cerita ini saya turunkan belum pernah lagi ada yang melihat sosok perempuan penunggu rumah Belanda

Namun jika ada yang mau membuktikan kebenaran silahkan datang untuk beruji nyali di tempat itu.

Sekian…

 

Penulis:

Achmad Afandy

 

 

 

 

2 Comments

  1. Kapan cerita ini di tulis, dan dimana letak sebenarx rumah tua itu krn saya penduduk asli jalan lakalolong tp sekrg rumah itu tidak ada dan selama ini saya tidak pernah mendengar hal2 aneh!!!
    Tolong sebelum di share di survei dulu lokasix

    • dibelakang gereja bro ini rumah, berarti masa SD ta bukan di Barru sekitar 1999an 😀 ini hangat sekali dulu ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *