Setitik Angan untuk Kota Kebanggaanku

SELAMAT HARI JADI UNTUK KABUPATEN BARRU YANG KE 56 TAHUN

Dikirim oleh Fandy Wd Jbg pada 27 Februari 2016

Tepat pukul 03:00 WITA, aku terbangun dari mimpi yang tak biasanya. Mimpi dimana orang-orang sibuk membicarakan satu kota yang tak asing buatku. Yah, mereka membicarkan kota kelahiranku. Tapi, ada apa dengan kota kelahiranku? Aku berusaha mengingat apa saja pembicaraan mereka sewaktu di minpiku. Akupun beranjak dari tempat tidurku lalu mengambil pena dan secarik kertas untuk merangkum semua pembicaraan mereka dalam mimpiku tadi.

 

Namun tak satupun yang mampu aku ingat. Yang ada aku hanya mengingat tanggapan-tanggapan teman ku mengenai kota ini sewaktu aku masih kuliah dulu. Satu hal yang paling aku ingat, mereka mengatakan bahwa kota kelahiranku tak lebih dari kota yang panjang nan membosankan. Tak aku pungkiri, aku memiliki banyak teman yang lahir di bagian utara kotaku, dan secara otomatis jika ia ingin menghabiskan liburan semester mereka dengan pulang kampung, mereka pasti melalui kotaku yang panjangnya kurang lebih 100 Km. Jelas saja dengan rute perjalanan sepanjang itu akan terasa membosankan jika tak menyempatkan diri untuk melihat apa saja keindahan tersembunyi yang ada di balik kota tercintaku ini.

 

Nah, aku sedikit mengingat soal pembicaran orang-orang di mimpiku tadi, tapi belum sepenuhnya teringat jelas. Berbicara soal keindahan yang tersembunyi di kota ini (Barru). Ternyata ada banyak hal yang mereka (terkhusus teman-teman kuliahku) belum ketahui. Ada lebih dari 10 air terjun yang super duper indah yang tersembunyi di tanah leluhurku ini. Ada beberapa wisata alam lainnya yang tak kalah indahnya seperti hutan pinus, bukit-bukit dengan amazing view, pulau-pulau dengan keindahan laut dan pantainya, dan padang rumput yang amat luas yang terletak di ketinggian sekian-sekian mdpl (akupun tak tau pastinya berapa hehehe) yang tentunya membuat mata terkagum-kagum karena eksotisnya pemandangan di atas sana. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Kemudian apalagi yang kurang? “Tanyaku dalam hati sembari memainkan pena yang ada di jariku sedari tadi”.. Dengan sejuta titipan Tuhan yang indah ini, kenapa masih banyak yang mengatakan kotaku ini tak lebih dari penghubung ibu kota provinsi Makassar dan kota madya Pare-pare. Apa karena kurangnya perhatian dari pemerintah? Aku rasa itu bukan jawaban yang tepat. Karena pikirku, ini bukan hanya tugas pemerintah melainkan ini PR kita bersama sebagai pemuda penerus harapan tanah ini. Memberitahukan kepada orang-orang di luar sana bahwa ” Aku punya tanah leluhur yang indah”. Tanah yang bukan sekedar penghubung antar kota, melainkan tanah yang memiliki keindahan sepenggal surga.

 

Anganku untuk kota ini, kota yang menjadikanku sedewasa sekarang ini, kota yang mengajarkanku apa arti kehidupan, dan kota dimana suatu saat nanti dengan lantang dan bangga aku mengatakan “Aku ini anak Bugis Barru”. Dan bukan cuman aku yang bangga mengatakan kata-kata itu. Orang-orang di luar sana, entah itu esok atau suatu hari nanti mereka bangga terlahir disini. Aku ingin kotaku menjadi salah satu tujuan utama para penikmat wisata. Bukan cuman penikmat wisata, tapi untuk semua manusia di dunia. Akhirnya hampir sejam aku memainkan pena di jariku. Akupun teringat jelas apa yang terjadi di mimpiku tadi. Ternyata di mimpiku, aku mendengar banyak orang beribacara tentang sepenggal surga yang ada di tanah leluhurku ini, mereka seakan takjub dengan keindahan alam dan perkembangan-perkembangan kota yang luar biasa. Dan akupun tersenyum tenang, seakan apa yang sedari tadi menghantui pikiranku telah terjawab dengan jelas. Semoga apa yang ada di mimpiku ini, terealisasikan ke dunia nyata. Amin..

 

Tulisan ini aku rangkai hanya sebagai setitik angan untuk tanah leluhurku.

“Dirgahayu tanah leluhurku Barru yang ke 56, jayalah terus, berkaryalah dengan nyata, dan semoga semua harapan saudara setanah kelahiranku untuk daerah ini dapat menjadi kenyataan suatu hari kelak. Amin”

 

@zulham_irfandy