Sisir Kutu Hisma Barru Menembus Pasar Ekspor Internasional

Tidak banyak yang tahu lokal produk yang satu ini, buatan salah satu kelompok masyarakat di Wiritasi kelurahan Mangkoso kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Sisir kutu yang hanya dikenal pada tempo dulu itu ternyata masih diproduksi sampai sekarang bahkan menjadi produk andalan di negeri Cina.

Usaha ini memproduksi 100 lusin sisir kutu dalam sehari, jadi menghasilkan 700-800 lusin tiap minggunya. Proses pengirim-an sisir kutu tersebut juga dilakukan tiap akhir pekan sehingga mampu menopang perekonomian kelompok masyarakat yang ada disana.

Ibu Hisma selaku pemilik usaha menjelaskan “usaha ini berdiri sejak 2003, hanya saja baru di tahun 2007 mengalami kemajuan sampai bisa diekspor ke negeri Cina”. Hisma juga menambahkan bahwa usaha ini tidak dikerjakan hanya bersama suaminya, namun mereka memperkerjakan masyarakat yang umumnya kelompok ibu-ibu untuk membantu dalam proses produksinya.

Dalam proses pembuatannya dibutuhkan bambu, benang woll merah dan jarum. Bagi pemula, membuat sisir kutu ini akan membutuhkan proses yang lama. Karena memerlukan kesabaran dan ketelitian yang luar biasa. Hal tersebut terlihat dari cara ibu-ibu memasukkan benang woll kejarum tersebut kemudian diikat ke bambu yang sudah dibentuk menjadi potongan kecil.

Dalam pembuatan sisir kutu ini, ternyata mempunyai resep rahasia agar sisir kutu tersebut menjadi sangat kuat. Resep tersebut menjadi rahasia tersendiri oleh pemilik usaha tersebut. Hal tersebutlah yang menjadi pembeda dengan usaha – usaha lainnya yang sejenis. Seperti halnya dengan produk yang ada di daerah luar Barru.

Produk yang ada di Barru ini memang sudah sangat teruji kualitasnya, terlihat dari pasar produk bisa sampai yang biasa dikenal negeri Tirai Bambu.

Walaupun terlihat biasa tapi usaha ini juga punya modal yang cukup besar. Dilihat dari jarum yang digunakan dalam proses produksi bisa mencapai 10 Dus tiap minggunya. Bambu yang digunakan pun mencapai satu truk mobil yang harganya bisa mencapai Rp 2.000.000 per pekan dan benang woll bisa mencapai 10 Dus per pekan-nya. “ Harga sisir kutu ini berkisaran Rp 3,000an hingga harga Rp. 5.000an kalau sudah di pasar”. Tambah ibu Hisma

Ketika kami menemui salah satu pekerjanya, Ibu tersebut mengatakan kalau pekerjaan ini sangat membantu dan ikut menambah perekonomian kami namun tidak mengganggu aktifitas lainnya karena bisa dikerjakan pada saat santai.

Barru memiliki banyak potensi bahkan jauh daerah ini berkembang. Masyarakat sudah lama mandiri sehingga mental mereka dalam berwirau-saha sudah lama tertanam tanpa tergantung dari pemerintah sendiri, akan tetapi perlu adanya pedampingan secara berkala agar usaha ini tidak hanya dipasarkan dalam satu titik tapi juga bisa keluar ke negara-negara lainnya dan bisa menjadi salah satu oleh oleh khas yang ada di Kabupaten Barru.

Penulis : Asriadi Rijal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *