Tari Sere Api ( Merangsuk ke Negeri Budaya Masyarakat Tobalo Barru )

tari sere api

Oleh Badaruddin Amir

Desa Bulo-Bulo terletak di wilayah Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru, sekitar 70 km arah tenggara dari pusat kota Barru. Desa ini berpenduduk ± 440 KK atau sekitar 1720 jiwa. Desa ini terdiri dari 6 dusun, masing-masing Dusun Kambotti, Dusun Panggalungan, Dusun Maroangin, Dusun Labaka, Dusun Taipabalirae, dan Dusun Palampang. Dulu sebelum sarana transfortasi jalan sampai ke desa itu, Desa Bulo-Bulo merupakan Desa yang sangat terpencil di Kabupaten Barru. Betapa tidak, untuk sampai ke Desa itu saja harus melalui kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Maros atau Kabupaten Bone.

Tapi sekarang berkat kemajuan pembangunan, Desa-Bulo-Bulo sudah bisa dicapai dengan kendaraan roda empat melalui Kecamatan Tanete Riaja kemudian menuju ke Kecamatan Pujananting, seterusnya menuju ke Desa Bulo-Bulo meski kondisi jalanan ke sana jangan dibayangkan semulus jalan-jalan di Ibukota. Reruntuhan tebing dan bebatuan dan jurang-jurang yang menganga di tepi jalan masih sering jadi ancaman, terutama pada musin-musim penghujan.

Menyebut Desa Bulo-Bulo di Kabupaten Barru, maka yang teringat adalah Suku Tobalo, sebuah komunitas suku terasing yang oleh Departemen Sosial pada tahun 1995 pernah dicatat sebagai salah satu suku (masyarakat) terasing dari sembilan suku terasing yang ada di Sulawesi Selatan.

Sebenarnya, penduduk Desa Bulo-Bulo Kecamatan Pujananting ini tidak didominasi oleh suku Tobalo saja. Karena di sana ada juga suku lain, yaitu suku Bugis sebagai penduduk asli yang menghuni dusun-dusun yang ada di Desa Bulo-Bulo dan Suku Makassar serbagai warga pendatang. Komunitas Suku Tobalo, yang juga merupakan penduduk asli hanya berada di salah satu dusun yaitu Dusun Labakka yang dihuni sekitar 50 KK. Di dusun Labakka ini pun tidak semua penduduknya adalah Suku Tobalo.

Tempat tinggal Suku Tobalo ini berada di puncak ketinggian gunung tandus, sekitar 3 km dari pusat Desa Bulo-Bulo. Dua sisi dusun ini diapit oleh barisan perbukitan tandus dengan tanah kering bertekstur coklat muda. Di sana-sini terdapat tebing-tebing yang dihiasi bebatuan granit bagaikan relif-relif abstrak yang sengaja ditoreh. Pada puncaknya terhampar padang-padang sabana yang secara litologi mengandung unsur oksida.

Menurut kepercayaan suku Tobalo bukit-bukit dan hutan serta padang sabana yang mengitari dusun ini merupakan lingkungan tempat tumbuhnya aju welenrengnge (pohon raksasa yang dalam mitologi La Galigo ditebang oleh Sawerigading untuk membuat perahunya yang digunakan berlayar ke Tanah Cina). Karena itulah, hutan pebukitan yang mengitari dusun mereka dipandang sangat keramat dan terus dijaga baik oleh pendduduk maupun oleh roh-roh nenek moyang.

Keterasingan Desa Bulo-Bulo, tempat tinggal suku Tobalo ini sejak dahulu telah tercatat dalam Lontaraq yang ditulis oleh Dulung Lamuru(1920) sebagai berikut :

I anaro kampongnge Gattareng sibawa Bulo-Bulo, tennatuoi api, tenna engkalinga sadda palungeng, tenna sabbi oni manu, tenna bokkai asu. Tau taummu, tana tanamu, mana mana’mu, nasaba Lamuru mabelai, Tanete Makawei, narekko maddarai tauwe, marakkoi darana nappa lettu ri Lamuru, narekko ri Tanete engkamuatu salo lawai, naiya kiya salo ri luppe-lupekuammatu.

Artinya :

Adapun kampung Gattareng dan Bulo-Bulo, (disana) tak hidup api, tak kedengaran bunyi lesung, tak disaksikan kokok ayam, tak digongngogi anjing. Rakyat adalah rakyatmu, negeri adalah negerimu, warisan adalah warisanmu sebab Lamuru sangatlah jauh (dari Bulo-Bulo) dan Tanete dekat. Kalau ada yang berdarah nanti kering darahnya barulah sampai di Lamuru, sedang di tanete ada sungai yang membatastasi dapat dilompati.

Menurut sebuah cerita, populasi Suku “Tobalo” ini sangat terbatas karena jumlahnya tidak pernah lebih dari 11 orang. Manakala ada anak bayi suku Tobalo yang lahir sehingga populasinya bertambah menjadi dua belas, maka akan ada seorang kerabatnya yang meninggal sehingga jumlahnya kembali menjadi sebelas. Tak jelas apakah cerita itu benar. Yang pasti bahwa cerita ini tercatat juga pada buku informasi wisata Kabupaten Barru berjudul “Barru dalam Visualisasi” yang diterbitkan Pemda Barru tahun 1997. Selain keunikan tersebut Suku Tobalo juga dikatakan tidak mempan senjata tajam dan tidak mempan dibakar api.

Suku Tobalo memiliki ciri khas warna kulit tersendiri yang tidak sama dengan suku lain, yaitu belang-belang (Balo), sangat mirip dengan bekas luka bakar atau tersiram air panas pada sekucur tubuhnya atau seperti orang yang menderita penykit kulit. Hal ini sangat kentara terlihat pada bagian tangan, kepala/dahi dan kaki serta badan (kalau buka baju). Tapi ini bukan akibat penyakit kelainan kulit, kata Prof.Dr.H.Abu Hamid salah seorang budayawan Sulsel yang meneliti suku Tobalo. Ia menyebut bahwa gejala itu disebabkan oleh bawaan genetik (gen) dan menampik anggapan masyarakat bahwa hal itu disebabkan oleh adanya “kutukan’ dari dewata yang ditimpakan pada nenek moyang mereka di masa lalu dan menurun hingga ke generasinya saat ini. Ceritanya konon ada satu keluarga yang menyaksikan sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Bukan hanya menonton, keluarga itu juga menegur dan mengusik kelakuan kedua kuda itu. Maka marahlah dewa lantas mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang atau balo. Ada pula kisah lain yang mengatakan bahwa Suku Tobalo turun bersama kuda belang dari langit saat pertama bumi diciptakan. Karena itulah mereka juga berkulit belang.

Dalam berkomunikasi sehari-hari Suku Tobalo tidak menggunakan bahasa Bugis ataupun Bahasa Makassar. Mereka memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Tobentong yang merupakan campur kodeantara bahasa Bugis, Bahasa Makassar dan Bahasa Konjo (Bahasa yang digunakan oleh komunitas Kajang). Hal ini merupakan fenomena lingualyang langka, karena dengan populasi yang boleh dihitung jari, SukuTobalo ternyata memiliki dan memelihara bahasa sendiri sebagai simbol identitas kesukuan yang mereka hormati. Meski demikian mereka juga mengenal dan mampu menggunakan bahasa Bugis, Bahasa Makassar, dan Bahasa Konjo untuk berkomunikasi dengan suku lain. Karena memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Tobentong ini sebagian peneliti Suku Tobalo juga menyebut suku ini sebagai Suku Tobentong.

Sere Api, Suling Lontaraq dan Gambusuq

Sebagaimana suku-suku lain yang ada di Indonesia, Suku Tobalo juga menghormati budaya mereka dan memiliki identitas kesenian sebagai penanda kesukuan. Suku Tobalo di Kabupaten Barru sangat dikenal dengan tari Sere Api ( menari di atas api) yang pernah membawa nama Kabupaten Barru ke tingkat nasional pada even Pesona Budaya Indonesia tahun 1993 di TMII Jakarta. Tari Sere Api ini kemudian menjadi salah satu ikon Pesona Budaya kebanggaan Kabupaten Barru versi Pariwisata. Dalam Festival Internasional La Galigo yang dilaksanakan Tahun 2002 di Pancana Kabupaten Barru, tari Sere Api banyak diapresiasi kalangan pemerhati seni budaya dari luar negeri, di samping kegiatan budaya lain seperti Mattojang dari Soppeng, Mabbissu dari Pangkep, dan Massaung.

Tari Sere Api sebenarnya adalah sebuah ritual budaya Suku Tobalo yang mengungkapkan rasa gembira kepada sang dewata atas kelahiran putra atau putri Penghulu Suku Tobalo (versi Pariwisata). Lain versi menyebutkan sebagai rasa gembira atas berhasilnya panen mereka dan merasa perlu mengungkapkannya dalam salah satu pesta panen. Karena itu tari “sere api” sering dikolaborasikan dengan ritual lain yang disebut Mappadendang (Pesta Panen).

Tari Sere Api dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuat api unggung yang besar. Berbarengan dengan irama “Padendang” (lesung yang dipukul alu secara bertalu-talu oleh beberapa penari laki-laki dan perempuan), api yang memnyala semakin menyala dan akhirnya akan meredup menjadi bara. Pada saat api sudah menjadi bara maka mulailah para penari Sere Api beraksi. Dengan gerakan ritmis mengikuti irama Padendang mereka bergantian atau bersama-sama melompat ke dalam bara api, menari-nari di atas bara. Saat mereka mulai intrancegerakan-gerakan tari mereka tak teratur lagi. Merekapun akan beraksi lebih hebat seperti memasukkan bara api dalam baju, memasukkan bara api ke dalam mulut atau menyiram tubuhnya dengan bara api. Anehnya, pada penari tak cedera apa-apa atau tak terbakar sedikitpun juga. Mereka terus menari dan menari kemudian melompat lagi masuk ke dalam bara api bergantian atau bersama-sama.

Selain “Sere Api” yang merupakan ritual kegembiraan Suku Tobalo ini sudah dipatenkan menjadi salah satu jenis tari di Sulawesi Selatan. Selain Sere Api Suku Tobalo juga memiliki kesenian Suling Lontaraq danGambusuq. Suling lontara adalah suling khas Suku Tobalo yang memiliki keunikan karena kedekatannya dengan tradisi lisan “Massureq”. SulingLontaraq digunakan oleh masyarakat suku Tobalo untuk mengiringi teks-teks La Galigo yang dituturkan oleh penembang. Seorang seniman memainkan seruling mengiringi nyanyian dari syair-syair yang berisi cerita La Galigo dan jenis cerita Lontaraq lainnya. Sementara seni “Gambusuq” (Gambus) adalah semacam permainan seni dengan menggunakan alat musik petik Gambusuq yang dibuat sendiri. Kedua alat musik ini telah dikenal oleh Suku Tobalo sejak ratusan tahun lalu oleh para tetua adat, sehingga keduanya dikenal sebagai identitas Suku Tobalo.

Menurut seorang peneliti dari PSLG Unhas yang melakukan revitalisasi budaya di daerah itu, Suling Lontaraq dan Gambusuq saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda Tobalo disebabkan oleh banyak diantara mereka sudah mengenal musik-musik modern yang lebih dinamis dan profan.

Source : http://www.kompasiana.com/badaruddin_amir/merangsuk-ke-negeri-budaya-suku-tobalo-suku-terasing-di-kabupaten-barru_550e71f6813311532dbc62e9