page
page

Wae Luttue, di Tebing Ampiri Kab. Barru

Ketika Sahabat barru.org mengunjungi Desa Bacu-Bacu Kecamatan Pujananting, sempatkanlah waktu untuk menikmati keindahan air terjun Wae Luttu’e. Air terjun Wae Luttu’e dapat dilihat dari jarak yang cukup jauh. Air terjun ini nampak dari jalan beton penghubung antara Kampung Ammerung dengan Kampung Ampiri, juga dari lembah Tille (bukit peternakan sapi Alleppereng).

 

Masyarakat setempat mengenal air terjun ini dengan nama Wae Luttu’e. berlebihan ? iya, tidak berlebihan karena ketika Sahabat barru.org berada pada jarak yang sangat dekat atau berada di bawah air terjun ini, sahabat barru.org akan menyaksikan air yang “terbang” mengikuti arah angin.

 

Wae Luttu’e merupakan aliran sungai dari Labaja. Aliran sungai Labaja melewati lembah-lembah perbukitan di Ampiri kemudian “terjun bebas” melalui tebing batu setinggi lebih kurang 150 meter menuju kampung Ammerung. Tidak ada tempat berenang di sini, jika ingin menikmati dinginnya air terjun ini, Sahabat barru.org boleh duduk di atas batu tepat di bawah air terjun.

 

IMG_9927

tanaman pacar air (Impatiens walleriana)

Keistimewaan dari air terjun anti mainstream ini selain airnya yang “terbang” kemana-mana, adalah tanaman pacar air (Impatiens walleriana) yang tumbuh subur di atas batu-batu besar di sekeliling air terjun. Selain itu, air terjun ini memberikan sensasi “badai abadi” terutama ketika Sahabat barru.org ngecamp di tempat ini. Bagi kalian yang menyukai tantangan yang sedikit horror dan mistis, tempat ini recommended banget. Di tempat ini, kalian benar-benar terasing dari manusia lain, berteriak pun tidak akan ada yang mendengarnya. Yang ada hanya suara badai, angin, hewan-hewan hutan, dan sesekali terdengar suara kuda (yang entah dari mana asalnya). Kesimpulan kami mengenai tempat ini adalah sangat mirip setting film Anaconda The Hunt For Blood Orchid.

 

Jika Sahabat barru.org penasaran ingin berkunjung ke air terjun Wae Luttu’e, kami sarankan agar berangkat bersama beberapa orang teman. Jika bermaksud ngecamp, tim kalian jangan lebih dari delapan orang karena kapasitas lokasi ngecamp yang aman hanya muat sekitar tiga tenda saja. Tidak disarankan tidur/bermalam di atas hammock, selain basah dikhawatirkan ada ular atau hewan-hewan lain di atas pohon.

 

IMG_9909

nikmatnya tertidur di atas hammock di sekitar wae luttue

Perjalanan menuju Wae Luttu’e dapat diakses melalui dua rute yaitu melalui persawahan kampung Ampiri dan melalui jalan tani kampung Ampiri. Sahabat barru.org dapat mengambil jalur dari Kota Barru menuju Kecamatan Pujananting. Setelah berada di persimpangan Pujananting (depan Kantor Camat Pujananting), silahkan mengikuti jalur menuju ke arah Desa Bacu-Bacu.

 

Jalur pertama, air terjun dapat diakses melalui persawahan dan perkebunan. Jarak tempuh sekitar 2 jam berjalan kaki dari perkampungan. Jalur yang pertama ini terbilang cukup jauh namun perjalanan tidak terlalu mendaki. Silahkan titipkan kendaraan Sahabat barru.org di rumah warga kampung Ampiri. Lanjutkan perjalanan menuju air terjun dengan berjalan kaki melalui areal persawahan. Setelah melewati sawah yang sedikit berbukit, Sahabat Barru.org akan melewati hutan produksi yang ditumbuhi semak-semak. Usahakan tetap melewati jalan setapak agar tidak tersesat. Setelah melewati hutan produksi, sahabat barru.org akan keluar menuju punggung bukit. Tetap ikuti jalan setapak hingga melewati perkebunan kacang tanah dan jagung. Hati-hati melewati perkebunannya ya teman, jangan menginjak tanaman di kebun. Setelah menuruni bukit, sahabat barru.org akan menyeberangi sungai kecil kemudian mendaki lagi di perkebunan kacang tanah berikutnya. Dari bukit yang kedua ini, air terjunnya sudah semakin dekat. Beristirahatlah sejenak sebelum memasuki hutan lebat menuju air terjun. Setelah energi kembali pulih, silahkan melanjutkan perjalanan kalian melewati pagar kebun menuju hutan lebat yang sangat basah, gelap dan licin. Jangan terpisah dari rombongan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ikuti saja jalan setapak hingga jalan setapak tersebut buntu. Setelah itu, pendakian dimulai di antara batu-batu gunung yang besar dan licin. Untuk mendaki pada medan seperti ini, sahabat barru.org harus berpegangan pada akar-akar pohon dan rotan. Setelah melewati hutan, sahabat barru.org akan disambut oleh percikan air menyerupai hujan dan taman bunga yang sangat indah. Tapi ingat ya temans, tetap hati-hati karena biasanya ada lubang besar dan jurang yang tertutupi oleh bunga-bunga cantik ini.

 

Jalur kedua, dapat diakses melalui jalan tani dengan jarak tempuh sekitar 1 jam menuju air terjun. Jika memilih jalur ini, Sahabat barru.org harus berkendara melewati perkampungan Ampiri hingga menemukan jalan tani. Silahkan berbelok masuk melalui jalan tani tersebut dan parkirkan kendaraan kalian di bawah pohon. Setelah memarkirkan kendaraan dengan aman, Sahabat barru.org akan melewati pagar menuju persawahan. Ikuti saja pematang sawah menuju arah bawah bukit. Setelah melewati pagar kedua, Sahabat barru.org akan menuruni punggung bukit yang ditanami kacang tanah dan jagung. Hati-hati tergelincir yak karena kemiringan lereng bukitnya sekitar 75 derajat. Setelah menuruni bukit, kalian akan menyeberangi sungai kecil berbatu besar. Jangan terkecoh teman, karena disana ada 2 air terjun. Air terjun yang paling dekat dengan jalur kedua ini bukan air terjun Wae Luttu’e yang sedang kita bicarakan ini.  Setelah melewati sungai, Sahabat barru.org akan kembali mendaki melewati rimbunan pohon-pohon besar menuju perkebunan kacang tanah, terus mendaki hingga melewati pagar pembatas kebun dengan hutan. Terus mendaki memasuki hutan ke arah barat menuju air terjun. Setelah melewati hutan lebat yang gelap, licin dan berduri, perjalanan kalian sudah sampai ke Wae Luttu’e.

 

Nah, Sahabat barru.org sudah bisa menentukan jalur mana yang akan dilewati. Saran kami, jika tidak terbiasa mendaki sebaiknya pilih jalur yang pertama. Memang memakan waktu yang lebih lama karena jarak tempuh yang lebih jauh namun jalur ini bisa dijalani dengan sedikit santai.

 

IMG_9862

tenda yang terpeyot peyot karena kerasnya angin di sekitar wae luttue

Perlengkapan yang wajib dibawa ketika berkunjung ke Wae Luttu’e adalah jas hujan, makanan jadi (sangat susah menyalakan api di tempat ini), garam untuk ditaburkan di sekeliling tenda jika bermaksud ngecamp, senter/lampu karena lokasi air terjun sudah mulai gelap sekitar jam 5 sore dan semua barang bawaan harus waterproof/dibungkus pelastik. Alat elektronik seperti kamera dan ponsel wajib menggunakan casing waterproof dan baterai cadangan.

 

Seperti biasa, nikmatilah alam dengan bijak. Buatlah dokumentasi sewajarnya tanpa perlu menginjak-injak tanaman yang ada. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan serta bawa pulang sampahta’.

 

Penulis : @langit.sendja

  1. Mantapnya…..
    Rasanya mau ambil cuti panjang, dan menculik teman2 barru.org untuk menikmati pemandangan wae luttu’e….
    Hehehe…. mantap… mantap…. salam….

    Regards,
    Anak barru yAng lagi merantau jauh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>